“Sabarlah, tunggu sampai badai ini selesai, dan kau boleh pergi lagi setelah ini” Rumah patah hati, seindah apakah rumah yang kau bilang ini. Apakah di bangun dari gumpalan-gumpalan empedu yang hanya berbentuk seperti kismis lalu di saat badai datang mengoyakan segalanya dan rumah itu runtuh lalu kau mulai patah hati? Atau seindah apakah rumah yangLanjutkan membaca “RUMAH PATAH HATI”
Arsip Penulis:Suka minum bir, kopi, dan kenangan. Selebihnya di luar menulis tiada yang pasti. Tiada.
Dua Musim Di Mataku Untuk Kau Yang Pergi
1 Musim panas Matahari membakar habis dirimu, beberapa hari sebelum kau pergi Sebelum para koruptor tersangkut di mata jeruji yang bengis Saat aku sedang berusaha menciptakan kembali senyummu yang hilang Mengembalikan kembali kenangan indah terbakar cemburu Sambil menunggu kau sadar Dan kembali berkisah tentang keraguan dan kesedihan yang menolak untuk di sentuh Tapi memberiLanjutkan membaca “Dua Musim Di Mataku Untuk Kau Yang Pergi”
Di Halaman Lima Belas
Di halaman 15 puisi ini Ku lukis petrichor di ujung ingatan Yang tercium setelah hujan reda. Setelah malam demam jadi pagi yang genit Saat parasku menggigil di sepertiga horizon Kadang masa lalu tentangmu terlintas Wangi petrichor kadang terlupakan Kadang aku mengerti memar luka dihatiku. Kadang menungu itu sakit Sakit itu rumit. Tapi rindu takLanjutkan membaca “Di Halaman Lima Belas”
RERUNTUHAN KATA YANG SEMPAT DI KENANG
KITA TAK INGIN PERGI I think you always have to be True to your self first Jika aku ingin pergi dari gelinding matamu. Kau melihat aku seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Yang senantiasa memberi diri untuk di peluk tapi menolak untuk dirindukan Jika kau ingin pergi dari gelinding mataku. Aku melihat kauLanjutkan membaca “RERUNTUHAN KATA YANG SEMPAT DI KENANG”