RUMAH PATAH HATI

pixabay.com

“Sabarlah, tunggu sampai badai  ini selesai, dan kau boleh pergi lagi setelah ini”

Rumah patah hati, seindah apakah rumah yang kau bilang ini. Apakah di bangun dari gumpalan-gumpalan empedu yang hanya berbentuk seperti kismis lalu di saat badai datang mengoyakan segalanya dan  rumah itu runtuh lalu kau mulai patah hati?  Atau seindah apakah rumah yang kau bilang ini. Apakah dibentuk dengan susunan kristal-kristal air mata, yang hingga ketika topan dan angin kolumbus menerjang  ia jatuh dan kau mulai menangis?  Seindah apakah rumah yang kau bilang ini?  Mungkinkah ia mengingatkanmu pada  kenanganmu yang berlalu, saat dimana kau patah hati dari suara-suara rakyatmu yang genit, yang selalu menolakmu dengan alasan yang terlalu magis: kau keturunan Lusifer, kau tak punya hak memimpin kota ini.

Ah, tapi sesunguhnya bukanlah karya fiktif belaka. Bukan cerita horor yang terlihat mencekam tapi menyiksakan banyak kebohongan. Rumah patah hati itu ada, selalu ada di depan matanya. Sepanjang angin behembus, selalu saja ada cerita tentang sepanjang kekasih  yang kesepian dengan  rumah patah hatinya.  Silih berganti seperti pergantian musim. Angin barangkali  adalah kekuatan  yang dasyat. Gelombang  angin yang berhembus justru tak mengoyahkan rumah itu  malah menjadikan rumah itu makin asri dengan guguran daun-daun Mahoni yang jatuh menimpa atap rumah itu. Gugusan rumah itu berbentuk segita, seperti lukisan Mark Schopen De Hour dalam adengan Film Jurasik  Park. Gugusan seperti itu mewasiatkan tentang keturunan roh roh halus seperti  Iblis dan Lusifer yang diusir dari  Surga karena melawan Allah  mereka. Mungkin ini yang menjadi alasan rumah itu disebut rumah patah hati. Tapi, yang unik tak seoarang pun mampu melihat rumah itu. Selain sepasang kekasih yang kesepian.

“ Kau merindukanku, itulah sebabnya kau datang kerumahku ini”  Ucap seorang perempuan kepada kekasihnya. Di sore yang mendung, ketika keduanya duduk di alun alun rumah, sembari memandang senja yang sesaat lagi terbenam ke arah barat.

Di alun alu rumah itu, keteduhan selalu lahir, seperti perahu yang memilih teduh di tepi pantai saat segalanya telah selesai digunakan. Dan begitulah, keteduhan selalu dirasakan di dada lelaki yang menyukai senja itu. Seakan ia tak mengerti senja kali ini tak seperti yang sudah-sudah, seperti tak ingin senja berlabuh menjadi malam. Seakan ingin menahan untuk lebih lama menikmati senja dengan perempuan itu. Barangkali di matanya senja adalah keteduhan itu sendiri.

“Kamu tahu, kenapa untuk kali ini  kamu datang, rumah ini menjadi  lebih teduh. Dan itu berarti aku  ingin selalu lebih dekat dengan matamu?” Tanya wanita itu.

Lelaki itu diam. Ia tak cepat  untuk menjawabi pertanyaan itu. Jauh diserpihan hatinya ia tahu, wanita itu pasti akan menjawabi petanyaannya sendiri.

“Karena kau adalah bagian dari diriku yang tidak utuh. Kau seperti rumahku ini, teduh, pendiam tapi menyenangkan”

Rumah patah hati, seteduh apakah rumah ini ketika lelaki itu menginjakan kaki pertama kali  dirumah itu. Seteduh puncak gunung Laka’an, ataukah sebuah fatamorgana yang tercipta dengan bingkisan-bingkisan  ilmu gaib yang senantiasa menciptakan keteduhan di rumah itu,?

“Aku tidak akan beranjak pergi hingga malam meski kau diam saja”

Begitukah?

Lelaki itu memang masih diam.

Sepanjang  angin berhembus, senja berbentuk seperti kismis roti, merah kekuningan, dan perempuan itu terus berbicara. Di atas kepala mereka, barisan burung-burung Gagak, terbang melayang berbentuk lingkaran persis seperti bulatan kecil di kelopak mata  wanita itu. Sesekali hinggap di atas pucuk Mahoni sembari menukikkan matanya ke arah mereka. Hembusan angin terus saja bertambah, makin kencang seperti menambah gema dalam transit kehidupan masa lalu. Dan keduanya semakin tengelam dalam keteduhan dan kesunyian.

“Benarkah, setelah senja ini berlabuh jadi malam akan ada badai yang datang dan menerpa kota ini. Membumihanguskan seluruh pohon-pohon, danau-danau, rumah-rumah penduduk, pun juga hak dan politik kekuasaan di kota ini?” Tanya lelaki itu. Mungkin ia gusar dengan keteduhan yang tercipta di antara mereka. Ataukah memang ia terhipnotis tiba-tiba dengan suasana cemas yang muncul dihatinya.

“Tentu saja”

“Badai apa?, badai Kolumbus?”

“Ah, bukan”

“Lalu apa  jangan terlalu overacting, sayang”

“Ya hanya badai, tidak punya nama. Badai biasa. Itu saja”

“Hmm, pasti ada namanya, bahkan semut saja masih punya nama. Apalagi badai”

“Jadi”

“Baiklah, angap saja ini badai masa lalu”

Masa lalu lagi. Kedengaran seperti diksi yang auromatik. Bagi orang-orang kota, masa lalu itu nyanyian pengantar  tidur sehabis bercinta, masa lalu itu luka. Karena itu masa lalu patut dilupakan. Masa lalu terlihat jelas seperti senja dimata mereka  yang sisa sejengkal lagi berlabuh jadi malam. Samar-samar namun pasti. Ah, apa akan terjadi badai masa lalu. Apakah badai itu adalah badai ciptaan Lusifer dan iblis-iblis yang terkutuk dari surga. Atau hanya ilusi dari mulut wanita itu. Tidak ada yang tahu, hanya waktu, sepasang kekasih, dan rumah patah hati.

“Sebaiknya kita meyingkir ke tepat yang jauh”

“Kenapa?”

“Katamu akan terjadi badai dan kita bisa hanyut di dalamnya”

“Tidak, dari sini kita bisa menyaksikan badai itu”

“Kau yakin, tapi ini terlalu dekat, sayang”

“Ya, nikmati saja, lagi pula kalau pindah tempat, hatiku tak kan mampu merasakan keteduhan sepertimu”

“Hmmm”.

****
Malam itu  alam semesta seolah berpesta dalam gengaman eufhoria Lusifer dan iblis. Hujan jatuh seperti gumpalan es yang mencair, sementara petir dan sambaran kilat terdengar bagai tembakan rudal jarak dua ratus radius. Badai datang menyerang kota itu. Membumihanguskan segala yang ada di kota itu.

Orang-orang dikota itu hanya pasrah padaYang Kuasa. Mereka kehilangan nyali untuk mencegah terjadinya badai itu. Bahkan teknologi pembaca badai di kota itu tak mampu mendeteksi secara tepat. Badai itu datang menerpa seperti mimpi.

Segalanya hancur. Tidak ada yang tersisa.  Gubernur yang baru terpilih mati menganaskan di hantam badai. Semua sistem politik, hak-hak suara, hancur. Tidak ada yang tersisa. Ya tidak ada yang tersisa. Selain kumpulan mayat yang berserakan dimana-mana.

***
Nun jauh di bebukitan, tepatnya di atas ketinggian kota itu, sepasang kekasih menyaksikan badai itu. Di mata mereka kota itu nampak seperti kerlipan warna warni petasan yang dimainkan saat menjelang  hari kutukan  Lusifer dan iblis.

“Kenapa manusia bisa mati?” Tanya lelaki itu.

“Karena manusia tidak memiliki rumah patah hati, seperti kita. Manusia itu  diciptakan dari debu, dan akan kembali menjadi debu. Karena diciptakan dari debu, maka keinginan daging lebih kuat dari keinginan roh. Itulah sebabnya, di kota ini terjadi korupsi besar-besaran, politik hanya digunakan sebagai sarana untuk menambah harkat kekuasaan dan kebohongan. Selain itu, di kota ini, wanita dilihat hanya sebagai penambah cita rasa lelaki. Mereka mengecap lalu meludahinya kembali. Sungguh hak-hak wanita  amat kecil dimata para lelaki seperti semut-semut merah. Itulah alasan kenapa manusia tidak punya rumah patah hati”

Rumah patah hati. Lagi-lagi rumah patah hati. Apakah rumah patah hati adalah rumah para Iblis dan Lusifer.  Rumah yang menjadi kumpulan para iblis tunduk pada  Allah. Rumah dimana segalanya bebas dari dosa,  dan yang ada hanya kebahagian. Ah, sungguh. Mencekam. Tapi teduh, begitu teduh sampai tak mempu merasakanya.

“Lalu kenapa kita tidak mati?”

“Kita  akan mati, tapi kita masih akan hidup seribu tahun lagi”

“Kenapa begitu?”

“Karena kita ditakdirkan sebagai keturunan Iblis dan Lusifer”

Lelaki itu mendekap dadanya. Air matanya jatuh di pelupuknya. Ia ingin kembali ke kota itu. Kembali melihat senyum ayahnya, ibunya dan semua yang ia kenal. Tapi itu hanya bayang-bayang. Ia kini telah ada di rumah patah hati. Sebuah rumah  terahkir yang jauh dari harapan sebelumnya.

“Bisakah aku pulang ke kota itu, walau hanya sehari?”

“Sabarlah, tunggu sampai badai ini selesai, dan kau boleh  pergi lagi setelah ini”

****** 

Penfui_Kupang_ Januari 2019.

Iklan

Dua Musim Di Mataku Untuk Kau Yang Pergi

1

Musim panas

Matahari membakar habis dirimu, beberapa hari sebelum kau pergi

Sebelum para koruptor tersangkut di mata jeruji yang bengis

 Saat aku sedang berusaha menciptakan kembali senyummu yang hilang

Mengembalikan kembali kenangan indah terbakar cemburu

Sambil menunggu kau sadar

 Dan kembali berkisah tentang keraguan dan kesedihan yang menolak untuk  di sentuh  

Tapi memberi diri untuk dinikmati

 Maka aku bertanya:

Apakah mencintaimu di luar  harapan tiada yang pasti?

Panas berkali_kali jatuh di kepalaku

 Dan aku berulang kali mengumpulkan reruntuhan abumu disebuah tiang garam

 Tempat dimana kau leleh oleh matahari yang ganas

Aku tidak tahu apakah jendela kamarmu

Buku_buku puisimu

 Anjing peliharaanmu

Tempat tidurmu dan semua yang  kau tinggalkan sedang menangis menunggumu pulang

Aku tidak tahu bilamana matahari berhenti bersinar

Dan tumpukan abumu menjelma nectar paling  ranum dan aku menjelma kupu_kupu paling setia yang senantiasa menjagamu

Aku tidak tahu apakah ini adalah kenangan atau malah sebagai  sebuah kemenangan

 Aku tidak tahu

Maka aku bertanya: apakah mencintaimu di luar harapan tiada yang pasti?

Sebab, musim panas pasti akan berlalu seperti satu kesedihan yang panjang.

 Aku telah menyaksikan kau pergi dengan cara yang baik.

Aku telah memahami cinta itu rumit untuk dipahami rumit pula untuk dijalani.

 Dan ahkirnya aku telah berdoa

supaya kita disatukan kembali seperti awal kau jatuh cinta padaku.

Maka aku masih tetap bertanya:

apakah mencintaimu di luar  harapan tiada yang pasti?

(Penfui, 2018)

2

Musim Hujan

Tiba_tiba hujan jatuh di rambutmu

Jatuh di dadamu. Jatuh di sekujur tubuhmu

Kau di dalam hujan. Hujan di dalam kau. Hujan beri kau kesegaran. Kau beri hujan kelimpahan

Seperti sepasang kekasih kau dan hujan jatuh cinta.

Dan masih. Aku masih melihatmu  ada  didalam hujan  

Alangkah bahagianya dirimu seolah tidak punya kepastian untuk sadar dan mengucapkan

 :selamat pagi sayang, apakah kau punya harapan?

Ah, ingin sekali aku menarik diri dari kegilaan yang panjang ini

Agar aku bisa membisikan mantra ke telingamu

 Supaya kelak kau jadi presiden

 Supaya kelak orang_orang tidak lagi mengeluh tentang korupsi yang semakin menjamur

 tentang harga barang_barang yang membengkak

 Tentang jalan_jalan yang dibangun cuma untuk mesin perusak

 Tentang tayangan televisi yang sungguh menyengsarakan.

 Agar kau tahu betapa susahnya diriku bertahan mencintai dengan tiada harapan darimu

Dan akhirnya hujan pulang ke langit

 Kau yang tanpa nama berjalan terkatup_katup diantara kau yang lain

 Kau membawa belati, amarah, cemburu dan benci

Di dadamu yang rumit  dan di jemarimu yang nakal dan buas

Aku yang di dalam kedai kopi menyaksikanmu dengan lelehan air mata

Maka. Pukul 10.00 dari kedai kopimu yang sepi

Setelah kau pergi

Masihkah

Kau punya harapan mencintai seseorang yang hanya mampu mencintaimu dengan sebuah puisi?

(Penfui, 2018)

Di Halaman Lima Belas

Di halaman 15 puisi ini

Ku lukis petrichor di ujung ingatan

Yang tercium setelah hujan reda.

Setelah malam demam jadi pagi yang genit

Saat parasku  menggigil di sepertiga horizon

Kadang masa lalu tentangmu terlintas

Wangi petrichor kadang terlupakan

Kadang aku mengerti memar luka dihatiku.

Kadang menungu itu sakit  

Sakit itu rumit. Tapi rindu tak ingin tahu

Petrichor adalah percikan warna-warni

Dijatuhi hujan lalu menusuk dalam sukma

Mengobati jiwa yang gemas dipenuhi luka.

Mengitari ruang dan waktu

Menambah gema tentang arti kehidupan

Di halaman 15 puisi ini

Ku lukis  petrichor serupa muara matamu

Dengan  doa  yang selalu mengaksara.

Dengan cinta yang senantiasa berkecambah

Semoga imanmu teguh oleh aminku di seberang sini

Kupang, Penfui, 01 Januari 2019.

RERUNTUHAN KATA YANG SEMPAT DI KENANG

KITA TAK INGIN PERGI

I think you always have to be

True to your self first

Jika aku ingin pergi dari gelinding matamu. Kau melihat aku seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Yang senantiasa memberi diri untuk di peluk tapi menolak untuk dirindukan

Jika kau ingin pergi dari gelinding mataku. Aku melihat kau seperti seekor kupu-kupu di tengah padang pasir yang panas. Yang selalu berusaha untuk tersenyum bahagia sambil menutup rasa sakit yang semakin perih dan mengganga

Jika kita tak ingin pergi bersama. Maka aku menjelma sumur yang tak boleh kau sentuh dasarnya. Dan kau menjelma langit yang senantiasa sibuk menggukur ketinggianmu sendiri

Tapi. Seperti di sebuah kamar yang sunyi kita selalu dipertemukan oleh tanggisan yang panjang dan legam. Sebab kita selalu memahami kecemburuan dan kesedihan kita tak layak untuk dipertontonkan

Penfui_Kupang 19 Agustus 2018

AGAR KAU GAGAL MELUPAKAN  DIRIKU                                     



Ingatan dan harapan

Dua kata yang tak ada di dalam peta

Kau bawa keduanya kemana kau pergi

 dan dimana kau berada

kau tak pernah peduli  jika kau salah dan kalah berkali kali

tidak ada yang peduli

termasuk malam yang menghapus separuh sepimu

juga pagi yang sempat mencumbui rindumu

tetapi kau lupa

lupa membedakan hari ini

 dan esok yang belum terjadi

kecuali dosa-dosamu  dan aku yang terlupakan

Pukul 9 pagi. Di depan tarian Likurai

aku yang lahir dari rahim kata-kata  membayangkan

tubuhmu adalah ladang kertas semata

akan kutulisi berpuluh-puluh puisi disana

sambil terus berdoa

agar kau batal meninggalkan kamarmu

agar  kau gagal melupakan diriku

 Penfui_Kupang 18 November 2018

TEDDY BEAR PUZZLE

1

Engkau  telah menjadi kenangan  sesudah

Detak jam berbunyi menyerap nubuat-nubuat penyair

 sebagai  pertanda  puisi yang kutulis tak pernah

menyembunyikan  apa yang tersimpan dihati

2

Kehilanganmu adalah menambah gema dari kerinduanku

seperti gema seorang Nabi yang mengembara melintasi padang dan hutan

 sungguh telah kucari engkau dari bebaris mata yang memandangiku

tapi engkau malah bersembunyi di balik kerumunan lambang

3

 Didalam matamu, nona

aku telah menjadi kalimat pembuka

jauh sebelum seseorang  menjadi sebuah paragraf

yang kautulis  dibawah kepingan-kepingan hatimu yang terluka

4

Teddy  bear puzzle

menurutmu apakah  menyamar sebagai azimat luka paling bahagia

adalah caramu meninggalkanku?

Penfui_Kupang November 2018

HOSTPOT ENIGMA

Diluar dadamu yang rapuh embun adalah  parutan kelapa yang halus menyerupai alis matamu. Puisi- puisi yang kutulis seakan menjelma jarum jam yang berhenti berputar ketika sepi menjadi lalu lintas yang melatari kepergianmu. Sedang Natal adalah pesta meriah sebagai penuntas luka yang abadi.

Pantaskah engkau pergi setelah memahatkan rindu pada jemariku yang leggang selama berhari-hari?  Pantaskah aku menjadi dahan-dahan  rapuh yang  senantiasa menungumu kembali sebagai  burung-burung Manyar  yang telah lekang oleh luka? Pantaskah kenangan kita menjadi monumen  yang mengingatkan betapa manisanya cinta?

Ah sudahlah, setelah kehilangan alamat surat, wastafel kamar mandi, brevir, puing-puing kisah,  dan kelender-kelender masa lalu. Diantara merdunya nyanyian malam kudus dan hangatnya bayi Yesus dipangkuanku, aku menemukan kembali reruntuhan senyummu yang hilang dan kembali mendengar sapaanmu yang murni dan bening

Hostpot enigma 2018: kau hanya sementara pergi dari ujung ingatanku yang genit, sayang

Penfui_Kupang November 2018.

PADANG

Menunggumu di padang tempat dimana kau lesapkan senyummu yang gamang

angin senja berhembus menenggelamkan liang luka didadaku

dan kesetiaan adalah mawar terahkir yang  tumbuh dalam dirimu

meski kutahu di  taman hatimu tumbuh pohon-pohon lontar dan lumut yang diujung rongganya selalu lupa kaubersihkan

Tapi. Aku tak akan diremas kesedihan karena jiwaku yang sudah tuntas menggembara telah singgah di terminal hatimu. Selamanya. Selamanya

Maka dari arah barat. Matahari belum mengusap matanya dan merenggangkan tubuhnya. Dari balik padang kau muncul bermahkotahkan senyum dan tawa. Diujung saku bajumu kau sisipkan Alkitab sebagai peluru paling jitu yang kau pakai untuk menaklukan Ular dan tipu daya Beelzebul

dan kau pun berlari lalu memeluk tubuhku yang pasrah berulang kali

 di dada ini kupaham

setia itu lahir dari hal- hal yang sederhana

Penfui_Kupang  November 2018