
“Sabarlah, tunggu sampai badai ini selesai, dan kau boleh pergi lagi setelah ini”
Rumah patah hati, seindah apakah rumah yang kau bilang ini. Apakah di bangun dari gumpalan-gumpalan empedu yang hanya berbentuk seperti kismis lalu di saat badai datang mengoyakan segalanya dan rumah itu runtuh lalu kau mulai patah hati? Atau seindah apakah rumah yang kau bilang ini. Apakah dibentuk dengan susunan kristal-kristal air mata, yang hingga ketika topan dan angin kolumbus menerjang ia jatuh dan kau mulai menangis? Seindah apakah rumah yang kau bilang ini? Mungkinkah ia mengingatkanmu pada kenanganmu yang berlalu, saat dimana kau patah hati dari suara-suara rakyatmu yang genit, yang selalu menolakmu dengan alasan yang terlalu magis: kau keturunan Lusifer, kau tak punya hak memimpin kota ini.
Ah, tapi sesunguhnya bukanlah karya fiktif belaka. Bukan cerita horor yang terlihat mencekam tapi menyiksakan banyak kebohongan. Rumah patah hati itu ada, selalu ada di depan matanya. Sepanjang angin behembus, selalu saja ada cerita tentang sepanjang kekasih yang kesepian dengan rumah patah hatinya. Silih berganti seperti pergantian musim. Angin barangkali adalah kekuatan yang dasyat. Gelombang angin yang berhembus justru tak mengoyahkan rumah itu malah menjadikan rumah itu makin asri dengan guguran daun-daun Mahoni yang jatuh menimpa atap rumah itu. Gugusan rumah itu berbentuk segita, seperti lukisan Mark Schopen De Hour dalam adengan Film Jurasik Park. Gugusan seperti itu mewasiatkan tentang keturunan roh roh halus seperti Iblis dan Lusifer yang diusir dari Surga karena melawan Allah mereka. Mungkin ini yang menjadi alasan rumah itu disebut rumah patah hati. Tapi, yang unik tak seoarang pun mampu melihat rumah itu. Selain sepasang kekasih yang kesepian.
“ Kau merindukanku, itulah sebabnya kau datang kerumahku ini” Ucap seorang perempuan kepada kekasihnya. Di sore yang mendung, ketika keduanya duduk di alun alun rumah, sembari memandang senja yang sesaat lagi terbenam ke arah barat.
Di alun alu rumah itu, keteduhan selalu lahir, seperti perahu yang memilih teduh di tepi pantai saat segalanya telah selesai digunakan. Dan begitulah, keteduhan selalu dirasakan di dada lelaki yang menyukai senja itu. Seakan ia tak mengerti senja kali ini tak seperti yang sudah-sudah, seperti tak ingin senja berlabuh menjadi malam. Seakan ingin menahan untuk lebih lama menikmati senja dengan perempuan itu. Barangkali di matanya senja adalah keteduhan itu sendiri.
“Kamu tahu, kenapa untuk kali ini kamu datang, rumah ini menjadi lebih teduh. Dan itu berarti aku ingin selalu lebih dekat dengan matamu?” Tanya wanita itu.
Lelaki itu diam. Ia tak cepat untuk menjawabi pertanyaan itu. Jauh diserpihan hatinya ia tahu, wanita itu pasti akan menjawabi petanyaannya sendiri.
“Karena kau adalah bagian dari diriku yang tidak utuh. Kau seperti rumahku ini, teduh, pendiam tapi menyenangkan”
Rumah patah hati, seteduh apakah rumah ini ketika lelaki itu menginjakan kaki pertama kali dirumah itu. Seteduh puncak gunung Laka’an, ataukah sebuah fatamorgana yang tercipta dengan bingkisan-bingkisan ilmu gaib yang senantiasa menciptakan keteduhan di rumah itu,?
“Aku tidak akan beranjak pergi hingga malam meski kau diam saja”
Begitukah?
Lelaki itu memang masih diam.
Sepanjang angin berhembus, senja berbentuk seperti kismis roti, merah kekuningan, dan perempuan itu terus berbicara. Di atas kepala mereka, barisan burung-burung Gagak, terbang melayang berbentuk lingkaran persis seperti bulatan kecil di kelopak mata wanita itu. Sesekali hinggap di atas pucuk Mahoni sembari menukikkan matanya ke arah mereka. Hembusan angin terus saja bertambah, makin kencang seperti menambah gema dalam transit kehidupan masa lalu. Dan keduanya semakin tengelam dalam keteduhan dan kesunyian.
“Benarkah, setelah senja ini berlabuh jadi malam akan ada badai yang datang dan menerpa kota ini. Membumihanguskan seluruh pohon-pohon, danau-danau, rumah-rumah penduduk, pun juga hak dan politik kekuasaan di kota ini?” Tanya lelaki itu. Mungkin ia gusar dengan keteduhan yang tercipta di antara mereka. Ataukah memang ia terhipnotis tiba-tiba dengan suasana cemas yang muncul dihatinya.
“Tentu saja”
“Badai apa?, badai Kolumbus?”
“Ah, bukan”
“Lalu apa jangan terlalu overacting, sayang”
“Ya hanya badai, tidak punya nama. Badai biasa. Itu saja”
“Hmm, pasti ada namanya, bahkan semut saja masih punya nama. Apalagi badai”
“Jadi”
“Baiklah, angap saja ini badai masa lalu”
Masa lalu lagi. Kedengaran seperti diksi yang auromatik. Bagi orang-orang kota, masa lalu itu nyanyian pengantar tidur sehabis bercinta, masa lalu itu luka. Karena itu masa lalu patut dilupakan. Masa lalu terlihat jelas seperti senja dimata mereka yang sisa sejengkal lagi berlabuh jadi malam. Samar-samar namun pasti. Ah, apa akan terjadi badai masa lalu. Apakah badai itu adalah badai ciptaan Lusifer dan iblis-iblis yang terkutuk dari surga. Atau hanya ilusi dari mulut wanita itu. Tidak ada yang tahu, hanya waktu, sepasang kekasih, dan rumah patah hati.
“Sebaiknya kita meyingkir ke tepat yang jauh”
“Kenapa?”
“Katamu akan terjadi badai dan kita bisa hanyut di dalamnya”
“Tidak, dari sini kita bisa menyaksikan badai itu”
“Kau yakin, tapi ini terlalu dekat, sayang”
“Ya, nikmati saja, lagi pula kalau pindah tempat, hatiku tak kan mampu merasakan keteduhan sepertimu”
“Hmmm”.
****
Malam itu alam semesta seolah berpesta
dalam gengaman eufhoria Lusifer dan iblis. Hujan jatuh seperti gumpalan es yang
mencair, sementara petir dan sambaran kilat terdengar bagai tembakan rudal
jarak dua ratus radius. Badai datang menyerang kota itu. Membumihanguskan
segala yang ada di kota itu.
Orang-orang dikota itu hanya pasrah padaYang Kuasa. Mereka kehilangan nyali untuk mencegah terjadinya badai itu. Bahkan teknologi pembaca badai di kota itu tak mampu mendeteksi secara tepat. Badai itu datang menerpa seperti mimpi.
Segalanya hancur. Tidak ada yang tersisa. Gubernur yang baru terpilih mati menganaskan di hantam badai. Semua sistem politik, hak-hak suara, hancur. Tidak ada yang tersisa. Ya tidak ada yang tersisa. Selain kumpulan mayat yang berserakan dimana-mana.
***
Nun jauh di bebukitan, tepatnya di atas ketinggian kota itu, sepasang kekasih
menyaksikan badai itu. Di mata mereka kota itu nampak seperti kerlipan warna
warni petasan yang dimainkan saat menjelang hari kutukan Lusifer dan iblis.
“Kenapa manusia bisa mati?” Tanya lelaki itu.
“Karena manusia tidak memiliki rumah patah hati, seperti kita. Manusia itu diciptakan dari debu, dan akan kembali menjadi debu. Karena diciptakan dari debu, maka keinginan daging lebih kuat dari keinginan roh. Itulah sebabnya, di kota ini terjadi korupsi besar-besaran, politik hanya digunakan sebagai sarana untuk menambah harkat kekuasaan dan kebohongan. Selain itu, di kota ini, wanita dilihat hanya sebagai penambah cita rasa lelaki. Mereka mengecap lalu meludahinya kembali. Sungguh hak-hak wanita amat kecil dimata para lelaki seperti semut-semut merah. Itulah alasan kenapa manusia tidak punya rumah patah hati”
Rumah patah hati. Lagi-lagi rumah patah hati. Apakah rumah patah hati adalah rumah para Iblis dan Lusifer. Rumah yang menjadi kumpulan para iblis tunduk pada Allah. Rumah dimana segalanya bebas dari dosa, dan yang ada hanya kebahagian. Ah, sungguh. Mencekam. Tapi teduh, begitu teduh sampai tak mempu merasakanya.
“Lalu kenapa kita tidak mati?”
“Kita akan mati, tapi kita masih akan hidup seribu tahun lagi”
“Kenapa begitu?”
“Karena kita ditakdirkan sebagai keturunan Iblis dan Lusifer”
Lelaki itu mendekap dadanya. Air matanya jatuh di pelupuknya. Ia ingin kembali ke kota itu. Kembali melihat senyum ayahnya, ibunya dan semua yang ia kenal. Tapi itu hanya bayang-bayang. Ia kini telah ada di rumah patah hati. Sebuah rumah terahkir yang jauh dari harapan sebelumnya.
“Bisakah aku pulang ke kota itu, walau hanya sehari?”
“Sabarlah, tunggu sampai badai ini selesai, dan kau boleh pergi lagi setelah ini”
******
Penfui_Kupang_ Januari 2019.








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.